Jakarta, Ruangpers.com – Jenderal TNI (Purn) Luhut Binsar Pandjaitan tak kuasa menahan kesedihan. Air matanya hampir menetes. Delapan prajurit Kopassus anak buahnya gugur ditembak kelompok bersenjata. Kepedihan hati Luhut muncul tatkala hadir di Markas Kopassus.
Para pensiunan prajurit Kopassandha (kini Kopassus) yang turut dalam Operasi Seroja membuat upacara kecil untuk mengenang mereka yang wafat. Pada 2017, Luhut mengisahkan saat dirinya diminta memberikan sambutan. Di podium dia menatap semua yang hadir.
“Tiba-tiba saya teringat wajah-wajah anak buah saya yang gugur pada waktu itu. Hanya beberapa jam sebelumnya saya memberi semangat dan berbicara dengan mereka, tahu-tahu besoknya mereka sudah tidak bernyawa lagi. Sebanyak 8 orang anak buah saya langsung gugur sebagai syuhada. Belum lagi anggota Kopassandha dari kelompok lain,” tutur Luhut dalam akun Facebook miliknya, dikutip Jumat (9/7/2021).
Bagi Luhut, Operasi Seroja Timor Timur pada 7 Desember 1975 itu sangat membekas, sekaligus menjadi kenangan pahit. Pada momen yang seharusnya dia terjun dari pesawat Hercules dan bertempur bersama anak buahnya, namun keadaan darurat berkata lain.
Lewat tengah malam WIB atau dini hari Wita, 10 pesawat C-130 B Hercules lepas landas dari Iswahyudi terbang ke arah tenggara hingga sampai di selatan Pulau Jawa, terbang lurus dan melewati Bali bagian selatan. Di atas Pulau Alor, konvoi pesawat angkut berat itu menurunkan ketinggian terbang hingga menjadi 7.000 feet.

“Bel pada ruang pesawat berdering pendek tiga kali dan lampu merah menyala di atas pintu sebagai tanda agar pasukan lintas udara berdiri,” ucapnya. Luhut menyebut, baik pasukan Baret Merah maupun pasukan Baret Hijau (Kostrad) mengkaitkan ujung static line pada empat kabel baja yang memanjang dalam ruang pesawat.
Seluruh prajurit memasang pen pengaman, tangan kiri memegang bibir kiri pintu pesawat, dan tangan kanan siaga di parasut cadangan di dada. Pasukan siap terjun!. Dalam ingatannya, setelah penerbangan selama empat jam lebih, para prajurit telah terlihat kelelahan.
Apalagi mereka nyaris tak beristirahat karena sejak pagi sudah persiapan di Bandara Halim Perdanakusuma. Begitu bel berbunyi, para prajurit langsung bangkit. Mereka berpikir untuk segera terjun dalam medan pertempuran. Wartawan perang Hendro Soebroto dalam bukunya “Operasi Udara di Timor Timur” menggambarkan detik-detik menegangkan tersebut.
“Sekitar pukul 05.45 Wita, tiga menit sebelum matahari terbit, lampu hijau di atas pintu pesawat menyala berbarengan dengan bunyi bel berdering panjang sebagai tanda dimulainya serbuan pasukan lintas udara. Mereka meloncat dari ketinggian antara 900 hingga 1.250 kaki,” tulisnya.
Luhut pun siap terjun. Dia sudah berdiri di pintu pesawat tinggal menunggu aba-aba dari jump master. Namun situasi telah mengubah segalanya. Dalam hitungan detik Pesawat Hercules tiba-tiba terbang miring. Bel panjang berhenti. Dua jump master segera menyilangkan kaki di pintu pesawat yang artinya pasukan tak boleh terjun. Load master juga dengan cepat menutup pintu. Luhut kaget. Dia menjadi bertanya-tanya, mengapa tak jadi terjun? Belakangan diketahui informasi intelijen yang tak akurat saat itu menjadikan pesawat TNI dihujani tembakan dari bawah.

Menko Kemaritiman dan Investasi Luhut Binsar Pandjaitan. (Foto: Kemenko Kemaritiman dan Investasi).
Berondongan tembakan dari kelompok bersenjata Fretilin membuat pesawat cepat-cepat menyingkir.
Menurut Luhut, 78 orang anggota Kopassandha gagal terjun di pagi itu. Mereka lantas dibawa ke Kupang. Ketika tiba di Bandara Penfui, baru dirinya tahu sejumlah peluru tembakan dari bawah menyebabkan kerusakan kecil di pesawat. Tak hanya itu, seorang load master di Hercules juga gugur terkena tembakan.
“Perasaan saya campur-aduk. Antara kesal, marah, khawatir semua bercampur baur di dalam kabin pesawat C-130B tersebut. Sejumlah anak buah saya telah terjun dan mungkin sudah terlibat tembak-menembak, dan mungkin juga telah menjadi korban. Sementara saya tak berdaya serta malahan tidak mampu memimpin mereka merebut sasaran yang ditentukan,” tuturnya.
Di Kupang itu pula dirinya tahu yang batal terjun tidak hanya dia dan pasukannya. Ada pula Perwira Operasi Grup-1 Mayor Inf Theo Sjafei (almarhum). Bersama Theo, Luhut cepat-cepat mencari jatah agar bisa segera berangkat lagi ke Dili. Tetapi situasi tak memungkinkan. Sesuai jadwal trip kedua Hercules menerjunkan pasukan Yonif Linud 502. Komposisi tak mungkin lagi dapat diubah. Luhut dan Theo baru berangkat tiga hari kemudian. Praktis dua hari dia menanti di Kupang dalam keadaan cemas dan tak menentu.
“Teman-teman yang gugur di Timtim itu selalu menjadi pengingat hati nurani saya untuk tidak berbuat korupsi atau mencuri uang negara sebagai warganegara yang berusaha dengan jujur dan terhormat. Saya tidak akan pernah menodai pengorbanan mereka!,” tutur Luhut, peraih Adhi Makayasa Akmil 1970 yang kini menjabat Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi ini.
Sumber : iNews.id