Medan, Ruangpers.com – Ugamo Malim atau atau kepercayaan Malim merupakan agama pertama masyarakat suku Batak sebelum mengenal agama Protestan, Katolik, dan Islam, serta agama lainnya di Indonesia. Orang yang menganut kepercayaan ini disebut dengan seorang parmalim.
Kepercayaan Malim ini berawal dari masa kepemimpinan Si Singamangaraja XII. Berawal dari kematian Si Singamangaraja XII, dibangunlah sebuah tempat ibadah bagi parmalim yang dinamakan Bale Pasogit di Hutatinggi, Laguboti pada tahun 1921.
Ugamo Malim memercayai Debata Mulajadi Nabolon sebagai Tuhan Yang Esa. Parmalim memiliki cara beribadah khusus sebagai sarana untuk menyembah Debata Mulajadi Nabolon yang dipimpin oleh Ihutan Parmalim atau Ulu Punguan (wakil dari Ihutan).
Secara umum, praktik peribadatan dalam Ugamo Malim diatur dalam Aturan Ni Ugamo Malim. Berikut tujuh ritual utama dan satu ritual tambahan Ugamo Malim yang dilansir dari buku Quo Vadis Pendidikan dan Gerakan Sosial Agama Lokal di Indonesia.
1.Mararisabtu
Ini merupakan ritual peribadatan yang dilaksanakan setiap hari Sabtu tepat pukul 10.30. Ritual ini bertujuan untuk mengungkapkan rasa syukur atas berkat yang diberikan oleh Debata Mulajadi Nabolon.
Biasanya ibadah ini dilakukan di Bale Partonggoan. Seluruh parmalim wajib mengikuti ritual ini.
2.Mangan Napaet
Mangan napaet memiliki arti makan makanan pahit dalam bahasa Indonesia. Ritual ini merupakan sarana untuk mengakui kesalahan di masa lalu.
Makanan pahit seperti biji anggir-anggir, daun pepaya, dan lainnya dimakan secara bersama-sama pada siang hari. Selanjutnya parmalim harus bisa menahan diri untuk tidak makan dan minum serta merokok selama seharian penuh.
Puasa itu akan berakhir di esok hari saat posisi matahari berada tepat di atas kepala. Umat parmalim akan kembali berkumpul dan makan bersama sebagai tanda waktu puasa telah berakhir. Ritual ini biasa dilakukan sehari sebelum peralihan tahun baru dalam penanggalan Ugamo Malim.
3.Sipaha Sada
Ritual ini dilaksanakan di awal tahun pada bulan pertama hari kedua (ari suma) dana hari ketiga (ari anggara) yang didasarkan pada kalender Batak. Ritual ini sebagai wujud rasa syukur atas kelahiran tuhan Simarumbulubosi yang dilakukan di Bale Pasogit Hutatinggi selama dua hari berturut-turut.
Parmalim yang hadir wajib memakai pakaian adat Batak, ulos untuk laki-laki serta lilitan kain putih di kepala dan kebaya serta ulos untuk perempuan. Ritual ini dipimpin oleh seorang imam yang memanjatkan doa ritus yang diiringi musik Batak yaitu gondang hasapi.
4.Sipaha Lima
Ritual ini adalah sebagai bentuk rasa syukur atas berkat dari Debata Mulajadi Nabolon. Tradisi ini dilakukan pada bulan kelima dalam kalendek Batak (Parhalaan).
Panen pertama (matumona) adalah persembahan utama dalam ritual ini. Ritual ini dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut yaitu di tanggal 12 (Boraspatinitangkup), 13 (Singkora Purasa), dan 14 (Samisarapurasa) dan dilaksanakan di Bale Pasogit Hutatinggi.
5.Martutuhaek
Tradisi ini dilakukan dalam rangka penyambutan serta penamaan pada bayi yang baru lahir. Ritual ini dilakukan di rumah umat parmalim yang baru melahirkan seorang anak.
Ritual ini dipercayai sebagai penyambutan tondi (roh) yang diturunkan dari Debata Mulajadi Nabolon kepada bayi yang baru lahir. Martutuhaek dilakukan di hari ke 30 setelah kelahiran bayi.
6.Pasahat Tondi
Berasal dari kata pasahat yang berarti menyampaikan dan tondi yang berarti roh, maka pasahat tondi berarti upacara pengantaran roh manusia kepada Debata Mulajadi Nabolon.
Umat parmalim memercayai bahwa manusia hanya mati secara badaniah, namun rohnya akan kembali pada tuhannya. Mereka menyebutnya dengan ‘ngolu dohot hamatean huaso ni Debata’.
7.Pardebataan atau Mardebata
Ritual ini dilakukan secara pribadi kepada Debata Mulajadi Nabolon yang bertujuan untuk meminta ampunan dan penebusan dosa serta syukuran.
Seorang parmalim akan mengancam status keparmalimannya jika mereka melakukan perbuatan menyimpang, untuk itulah mereka melakukan ritual ini. Mereka akan memberikan pelean atau sesaji yang diiringi dengan gondang sabangunan dan hasapi.
8.Mamasumasu
Mamasumasu berarti memberkati perkawinan yang dilaksanakan di Bale Pasogit atau Bale Parsantian. Ritual ini akan dipimpin oleh Ihutan atau Ulu Punguan.
Demikian penjelasan mengenai 8 ritual yang dilakukan Ugamo Malim yang merupakan kepercayaan pertama di suku Batak.
Sumber : detik.com